Perjuangan Melawan Agresi Militer Belanda

Diposting pada

Perjuangan Melawan Agresi Militer Belanda – Salam! Setelah melewati pertempuran melawan NICA, rakyat Indonesia dihadapkan pada invasi Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Nah, materi ini akan mengupas secara singkat bagaimana perjuangan melawan Agresi Militer Belanda. Selamat membaca!

Agresi Milter Belanda

Agresi Militer Belanda I

Perjuangan melawan Agresi Militer Belanda ditandai dengan mulainya peristiwa Agresi Militer Belanda terjadi pada tanggal 21 Juli 1947 pukul 00:00. Agresi Militer Belanda I mendapat kecaman keras dari seluruh dunia, termasuk PBB. Reaksi lainnya datang dari pemerintah India dan Australia yang mengajukan permintaan resmi kepada PBB agar pertikaian RI-Belanda dibahas dalam Dewan Keamanan PBB.

Pada sidang tanggal 1 Agustus 1947, diputuskan agar pihak RI-Belanda mengadakan gencatan senjata dan maju ke meja perundingan. Keputusan ini, ditindak lanjuti dengan dibentuk komisi konsuler yang bertugas untuk mengawasi jalannya gencatan senjata.

Namun, dalam kenyataannya Belanda melanggar kesepakatan dengan terus memperluas wilayahnya. Batas terakhir perluasan wilayah yang berhasil dikuasai ditetapkan oleh Belanda sebagai garis demarkasi, atau disebut juga sebagai Garis van Mook. Pelanggaran tersebut, kemudian dilaporkan oleh komisi konsuler kepada PBB.

Menanggapi laporan tersebut, PBB memanggil kembali RI-Belanda, tentu saja RI menolak secara tegas tentang garis demarkasi. Kemudian, Amerika Serikat pun mengusulkan pembentukan Komisi Jasa-jasa Baik(Goodwill Commission), yang bertujuan untuk membantu menyelesaikan pertikaian RI-Belanda.

Sebagai realisasi keputusan PBB maka berdasarkan sidang kabinet RI tanggal 6 September 1947, Australia dipilih sebagai perwakilan Indonesia, Belgia dipilih sebagai perwakilan Belanda, dan Amerika Serikat sebagai negara ketiga. Komisi ini dikenal dengan nama KTN (Komisi Tiga Negara). KTN terdiri atas Richard Kerby dari Australia, Panel van Zeeland dari Belgia, dan Dr.Frank Graham dari Amerika Serikat.

 

Perundingan Renville

Upaya melawan Agresi Militer selanjutnya, ialah Perundingan Renville. Dinamakan perundingan Renville karena perundingan ini dilakukan di sebuah kapal milik Angkatan Laut Amerika Serikat, yaitu Renville yang sedang berlabuh di teluk Jakarta. Dengan adanya Perundingan Renville membuat pemerintah RI membentuk Panitia Istimewa di bawah pimpinan Dr. J . Leimena.

Perundingan Renville dimulai pada tanggal 8 Desember 1947. Dalam perundingan ini, delegasi RI dipimpin oleh Amir Syarifuddin, sedangkan pihak Belanda dipimpin oleh R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo.R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo merupakan orang Indonesia yang memihak Belanda. Belanda sengaja mengutus perwakilan delegasi adalah orang Indonesia supaya bangsa lain melihat bahwa orang Indonesia pun, ada yang memihak Belanda. Itu berarti, Indonesia masih tetap menginginkan Belanda memegang kekuasaan RI.

Perjanjian Renville ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948. Berikut pokok-pokok isi Perjanjian Renville :

  1. Belanda akan tetap berdaulat hingga terbentuknya RIS
  2. RIS memiliki kedudukan sejajar dengan Uni Indonesia Belanda
  3. Belanda dapat menyerahkan kekuasaannya ke pemerintah federal sementara, sebelum RIS dibentuk
  4. Negara Republik Indonesia akan menjadi bagian dari RIS
  5. 6 bulan – 1 tahun, akan diadakan pemilu untuk pembentukan Konstituante RIS
  6. Setiap tentara Indonesia yang berada di daerah pendudukan Belanda harus berpindah ke daerah Republik Indonesia.

 

Agresi Militer Belanda II

Setelah Perjanjian Renville, muncullah Agresi Militer Belanda II. Agresi Militer Belanda II ini merupakan peristiwa pelanggaran terhadap perjanjian Renville.

Pada tanggal 17 Desember 1948, Belanda mengultimatum RI. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 19 Desember 1948 pukul 05.00 WIB. Selain Maguwo, Belanda menggempur kota Yogyakarta dan dalam waktu singkat mereka berhasil merebut kota tersebut, yang pada saat itu kedudukannya sebagai Ibu Kota. Para pemimpin Indonesia (Ir.Soekarno, Dr. Moh. Hatta) ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Namun sebelum itu, Presiden telah mengirimkan radiogram yang berisi mandat kepada Syarifuddin Prawiranegara untuk membantu Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi. Syarifudin hanyalah Presiden sementara pada peristiwa Agresi Militer Belanda II ini. Dan Ia tidak dilantik. Itulah alasan mengapa Syarifudin jarang kita temui namanya sebagai Presiden RI.

Pimpinan pasukan Belanda dalam Agresi ini adalah Jenderal Spoor. Tujuan Agresi Militer Belanda II yaitu untuk memusnahkan RI dengan cara menguasai ibu kota RI dan menawan pemimpinnya. Kemudian, perlawanan TNI atas Agresi Militer Belanda II dimpimpin oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sebetulnya pada saat itu, keadaan Sudirman dalam kondisi lemah karena penyakit TBC yang tengah dideritanya. Namun, beliau tetap semangat memimpin melawan secara gerilya meski harus ditandu.

 

Serangan Umum 1 Maret 1949

Tidak berhenti sampai disini, setelah Agresi Militer Belanda II berakhir, kembali terjadi serangan yang disebut Serangan Umum 1 Maret

Arti penting Seranga Umum 1 Maret 1949:

  1. Menunjukkan kepada dunia Internasional keberadaan pemerintah dan TNI masih kuat dan solid
  2. Dukungan terhadap perundingan atau diplomasi yang berlangsung di PBB
  3. Meningkatkan moral Bangsa Indonesia
  4. Meruntuhkan mental pasukan Belanda
  5. Mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia

 

Perundingan Roem-Royen

Perjanjian Roem-Royen diselenggarakan mulai dari 14 April sampai 7 Mei 1948, pihak Indonesia diwakili oleh Moh. Roem, dan beberapa tokoh lainnya.

Pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Perjanjian Roem-Royen mulai ditandatangani dan nama perjanjian ini diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Royen.

Isi Perjanjia Roem-Royen adalah sebagai berikut:

  1. Tentara bersenjata RI harus menghentikan aktivitas gerilya
  2. Pemerintah Republik Indonesia turut serta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB)
  3. Kembalinya pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta (Monjali)
  4. Tentara bersenjata Belanda harus menghentikan operasi militer dan oembebasan semua tahanan Politik
  5. Kedaulatan RI diserahkan secara utuh tanpa syarat
  6. Dengan menyetujui adanya RI yang bagian dari Negara Indonesia Serikat
  7. Belanda memberikan hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada pihak Indonesia.

 

Konferensi Inter-Indonesia

Konferensi ini dilakukan antara RI dengan Organisasi Negara-negara Bagian (BFO/Bijenkomst Voor Federal Overslag).

Konferensi pertama diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 19-22 Juli 1949 yang dipimpin oleh Moh.Hatta. Konferensi kedua dilaksanakan di Jakarta tanggal 30 Juli-2 Agustus 1949 di bawah pimpinan Sultan Hamid II.

 

Konferensi Meja Bundar (KMB)

Bentuk perlawanan terhada Agresi Militer Belanda yang terakhir ialah KMB.

KMB diselenggarakan di Den Haag, Belanda, pada tanggal 23 Agustus 1949. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta. Pada tanggal 2 November 1949 terapailah kesepakatan sebagai berikut:

  1. Kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia secara penuh dan tanpa syarat ke RIS.
  2. Pelaksanaan penyerahan kedaulatan akan dilaksanakan paling lambat tanggal 30 Desember 1949.
  3. Masalah Irian Barat ditunda dan akan diadakan perundingan lagi dalam waktu satu tahun setelah penyerahan kedaulatan kepada RIS.
  4. Status RIS dengan kerajaan Belanda terikat dalam suatu Uni Indonesia-Belanda yang dikepalai Ratu Belanda.
  5. Kapal-kapal perang Belanda akan ditarik dari Indonesia dan beberapa korvet akan diserahkan kepada RIS.

Tanggal 27 Desember 1949 dilaksanakan serah terima kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada RIS. Kegiatan di Amsterdam ini dipimpin oleh Ratu Belanda. Juliana kepada wakil RIS Drs. Moh. Hatta. Pada waktu yang sama, di Jakarta dilakukan penandatanganan serah terima kedaulatan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Belanda A.H.S Lovink.

Sejak tanggal 27 Desember 1949 terbentuklah pemerintah RIS yang terdiri dari 17 negara bagian (salah satunya adalah RI di Yogyakarta).

 

Cukup sampai disini pembahasan mengenai Perjuangan Melawan Agresi Militer Belanda. Semoga bisa membantu, dan menambah wawasan tentang bagaimana perjuangan Bangsa Indonesia dalam menghadapi Agresi Militer Belanda. Tetap pertahankan pesatuan Bangsa Indonesia yang telah mati matian diperjuangkan!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *