Kerajaan Hindu Buddha Di Indonesia

Diposting pada

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia – Salam ! Kali ini kita akan belajar materi Sejarah yang cukup penting karena materi ini sering sekali muncul di soal soal Ujian Nasional maupun SBMPTN bidang SOSHUM, yaitu Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia. Selamat membaca!

Kerajaan Hindu Buddha Di Indonesia

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia 1 : Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai berdiri pada tahun 400M. Pendiri kerajaan ini adalah Kudungga. Bukti bukti keberadaan Kerajaan Kutai yaitu ditemukannya prasasti Yupa yang ditulis pada abad 4-5 Masehi. Prasasti Yupa ini berisi tentang Raja Mulawarman yang mempunyai anak bersama Asmawarman. Pada masa Asmawarman, diadakan upacara Aswamedha atau penentuan batas kerajaan. Agama dari kerajaan ini adalah Hindu dengan aliran Hindu Syiwa.

 

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia 2 : Kerajaan Taruma Negara

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia  yang pertam adalah Kerajaan Taruma Negara. Tarumanegara adalah kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa. Agama yang dianut kerajaan ini adalah agama Hindu Wisnu. Corak kehidupan ekonominya berbasis pada bidang agraris. Tokoh yang paling berpengaruh adalah Punawarman. Purnawarman ini membuat Prasasti Tugu di daerah Cilincing berisi cerita penggalian Sungai Gomati dan juga penggalian Sungai Candrabaga.

Selain itu, ada banyak sekali prasasti yang ditemukan sebagai bukti keberadaan Tarumanegara. Prasasti itu antara lain prasasti Ciaruteun/Ciampea yang ditemukan di daerah Bogor. Prasasti tersebut bergambar dua telapak kaki Raja Purnawarman. Kemudian adalah prasasti Kebon Kopi dimana terdapat telapak kaki gajah, penguasa Taruma. Ada pula prasasti Jambu yang berisi tentang kehebatan Purnawarman. Masih banyak pula prasasti lain seperti Pasir Awi, Muara Cianten, Cidanghiang atau Lebak, dll.

 

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia 3 : Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Buddha pertama yang ada di indonesia adalah Kerajaan Sriwijaya ini. Berbeda dengan kerajaan sebelumnya yang memiliki corak ekonomi agraris, Kerajaan Sriwijaya memiliki corak ekonomi di bidang maritim atau perairan. Karena maritim itu pula kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan yang sangat maju, didukung  pula dengana letaknya yang strategis dan juga armada laut yang kuat.

Kejayaan Sriwijaya di masa lalu begitu kokoh. Kerajaan ini pernah menalkukan Kerajaan Minanga di Melayu di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Jayasana pada tahun 682 M. Pada abad ke 7, Kerajaan Tarumanegara pun diperkirakan runtuh akibat ekspansi dari Kerajaan Sriwijaya. Sriwijaya mencapai masa kejayaan di tangan Balaputra Dewa.

Di tengah kokohnya kerajaan ini berdiri, tak sedikit pula serangan yang datang. Seperti pada tahun 990 M, Raja Dharmawangsa dari Kerajaan Medang pernah menyerang Sriwijaya. Kemudian Kerajaan ini juga pernah diserang oleh Kerajaan Colamandala hingga beberapa daerah milik Sriwijaya melepaskan diri.

Akhirnya, kerajaan ini mencapai batas kejayaannya juga hingga bubar. Penyebab mundurnnya kerajaan Sriwijaya adalah pengganti Balaputra Dewa dianggap lemah, adanya ekspedisi Pamalayu dari Singasari, kemudian lepasnya daerah seperti Ligor, Thai, dan Semenanjung Malaka. Dan yang terakhri adalah adanya Sumpah Palapa Kerajaan Majapahit (Gajah Mada).

Prasasti kerajaan ini adalah prasati Talang Tuwo yang berisi tentang pembuatan taman Sriksetra atas perintah Dapunta Hyang Jayanasa untuk kemakmuran semua penduduk. Prasati Telaga Batu yang berisi kutukan kutukan sera terhadap siapa saja yang melakukan tindakan kejahatan dan ketidaktaatan pada raja. Prasati Kota Kapur dan Karang Birabi yang berisi permintaan terhadap dewa untuk menghukum setiap oraang yang bermaksud jahat terhadap Sriwijaya. Prasasti Nalanda yang menyatakan Balaputra Dewa adalah keturunana Raja Mataram Kuno Samaratungga, Prasasti Ligor yang menyatakan raja Sriwijaya adalah raja dari segala raja yang ada di dunia.

 

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia 4 : Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia  selanjutnya adalah Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan ini didirikan oleh Sanjaya pada tahun 717 M. Ibukotanya berada di Medang Poh Pitu. Kerajaan ini terbagi menjadi dua dinasti, yaitu dinasti Sanjaya dan dinasti Syailendra. Yang membedakan kedua dinasti tersebut adalah agama, dimana Dinasti Sanjaya menganut agama Hindu Siwa, sedangkan Dinasti Syailendra menganut agama Buddha. Akan tetapi nantinya, kedua dinasti ini akhirnya bersatu karena peristiwa pernikahan antara Rakai Pikatan dengan Pramodarwani.

Candi borobudur yang megah itu juga didirikan kerajaan ini dan selesai pada masa Syailendra. Candi ini didesain oleh Gunadharma. Berdirinya candi Borobodur juga menjadi faktor dibangunnya Candi Prambananan oleh Dyah Balitung yang bertujuan untuk menandingi Candi Borobudur.

Kerajaan Mataram Kuno ini akhirnya runtuh seiring berjalannya waktu. Faktor utama keruntuhannya adalah Gunung Merapi yang meletus pada 928 yang mengakibatkan pindahnya pusat Mataram Kuno ke Jawa Timur. Prasasti yang ditemukan adalah Prasasti Canggal, Kelurak, Balitung, Kalasan, dan juga Mantyasih.

 

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia 5 : Kerajaan Medang Kawulan/Kahuripan

Kerajaan Medang sering disebut pula Kerajaan Mataram Jawa Timur. Hal ini disebabkan karena Kerajaan ini merupakan lanjutan dari Mataram Kuno di Jawa Tengah yang runtuh akibat meletusnya Gunung Merapi. Mpu Sindok memindahkan kerajaan Mataram Kuno di Kediri dan mendirikan Kerajaan Medang ini. Keturunan Mpu Sindok adalah Wangsa Isyana.

Keruntuhan kerajaan ini terjadi pada masa Dharmawangs dimana ia bertikai dengan Sriwijaya dan akhrinya Medang mengalami pemusnahan oleh raja Wura Wari yang diperalat oleh Sriwijaya. Pada saat Dharmawangsa sedang mengadakan pesta pernikahan putrinya dengan Airlangga, ia tewas oleh pasukan raja Wura Wari. Akan tetapi, Airlangga dan permasuiranya berhasil meloloskan diri ke hutan Wonogiri. Akhirnya Airlangga memecah kerajaan menjadi dua kerajaan yaitu Jenggala dan Kediri. Prasasti yang ditemukan adalah Prasasti Pucangan, Prasasti Candi Belahan dan juga Arca Dewa Wisnu.

 

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia 6 : Singasari

Kerajaan Singasari ini dibangun oleh seseorang bernama Ken Arok. Akan tetapi setelah itu Ken Arok dibunuh atas suruhan Anusapati. Kemudian Anusapti memerintah Kerajaan Singasari. Setelah itu, banyak sekali rentetan pembunuhan untuk memperoleh kekuasaan raja. Pada akhirnya kerajaan ini runtuh juga akibat serangan dari Jayakatwang yang dibantu oleh Mongol. Pada saat itu, Singasari berada di bawah pimpinan Kertanegara. Prasasti yang ditemukan adalah Maribong, Kusmala, dan Balawi. Selain itu ditemukan pula Candi seperti Jago, Singosari, dan juga Penataran.

 

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia 7 : Kerajaan Majapahit

Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia yang terakhir adalah Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit yang begitu terkenal kesohorannya ini didirikan oleh Raden Wijaya. Tokoh berpengaruh pada kerajaan ini adalah Jayanegara, Tribhuwana Tungga Dewi, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada.

Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tungga Dewi, terjadi pemberontakan Sadeng yang berhasil ditumpas oleh Gajah Mada dan Adityawarman. Kemudian, Gajah Mada mencetuskan ide untuk menyatukan Nusantara yang dikenal dengan Sumpah Palapa.

Pada perkembangannya, kerajaan ini mengalami beberapa peristiwa penting. Seperti terjadinya Perang Bubat antara Majapahit dengan Padjajaran. Kemudian ada pula Perang Paregreg antara Wirakrama Wardhana dengan Bhre Wirabumi karena perebutan tahta. Kerajaan ini runtuh karena kedatangan islam.

Kerajaan Majapahit meninggalkan banyak karya sastra seperti Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, Sutasoma karya Mpu Tantular, dan Arjuna Wiwiwaha. Prasasti kerajaan ini adalah Trowulan dan Kudadu.

 

Demikian pembahasan mengenai Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia. Semoga bisa menambah wawasan teman teman dan membantu teman teman dalam belajar. Tetaplah belajar, pegang baik baik ucapan presiden pertama Republik Indonesia, Jasmerah! Jangan sekali kali melupakan sejarah!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *